Semalam Eksklusif bersama GenBI

6:02:00 AM


Malam itu terasa berbeda. Malam kedua di bulan Juni saat itu terlihat lebih cerah dari biasanya. Bintang pun bersinar lebih terang, tak ada mendung yang menutupi. Memang, saat itu kita sedang berada di atas motor bebek yang sedang melaju kencang di jalanan Desa Labang yang minim pencahayaan saat malam hari.

"Ndriy, kok malam ini terasa beda ya?" tanyaku pada Andriy untuk mencairkan suasana.

"Opo'o om?" Andriy menjawab sekenanya sambil fokus menyetir motor.

"Itu lho liat langitnya cerah, ngga seperti biasanya. Bintang juga banyak kelihatan om." timpalku.

"Woo iyo om." jawabnya singkat sambil tetap fokus nyetir.

Tujuan kita saat itu adalah sebuah Cafe di pusat kota Surabaya. Untuk kesana, kita yang berangkat dari kampus Universitas Trunojoyo Madura harus melwati Suramadu dan melalui jalanan desa Labang yang terbilang cukup menyeramkan kata orang awam. Bukan karena setannya, tapi orang bilang karena begalnya.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan juga menuju Surabaya. Selain melewati jalan yang menyeramkan tadi, sebenarnya masih ada jalur lain menuju Surabaya. Ya, melalui jalur laut seperti naik kapal feri ataupun berenang melewati selat Madura jika mampu. Ngga banyak jalan juga sih, cuma itu aja,

Setelah melewati jalan yang gelap tadi dengan perasaan was-was dan gelisah, sampailah kita di Suramadu. Suasanya lebih wah daripada tadi. Di seberang Suramadu, terlihat cahaya lampu perkotaan yang cukup terang. Indah sekali malam itu. Jarang saya lihat yang seperti ini, mungkin karena cuacanya yang cerah. Sesaat tak ingin rasanya menoleh ke belakang. Ironi melihat pulau Madura yang masih diselimuti gelap gulita.

Kita akhirnya sampai di tempat tujuan, yakni BonCafe di daerah Tegalsari. Jam digital di tangan menunjukkan pukul 19.10 WIB yang berarti kita telat 10 menit dari yang direncanakan. Itulah mengapa kami rela menempuh jalur Suramadu, agar tidak telat lebih dari ini. 

Setelah parkir motor, kita bergegas masuk ke dalam Cafe. Mencari Rizal, yang menyatakan lebih dulu sampai melalui pesan grup di Line.

"Permisi mas, ada yang bisa dibantu?  Apa sudah reservasi sebelumnya?" Ucap seorang pelayan Cafe tepat setelah membuka pintu.

"Oh iya Mbak, kita sedang cari teman yang sudah lebih dulu sampai. Sebentar ya Mbak kita cari dulu." Jawabku singkat dan langsung bergegas meninggalkan pelayan tadi.

Setelah berkeliling ruangan Cafe, tak ditemui satu teman pun yang datang. Dapat disimpulkan kita datang terlebih dahulu. Andriy pun hanya sekedar mengekor di belakang, mengikuti kemana arahku pergi. Akhirnya kuputuskan untuk duduk pada salah satu kursi di sudut ruangan, sambil menunggu mereka datang.

Namun sebelum pergi ke tempat duduk tujuan, kita berpapasan dengan Rizal yang akhirnya datang juga dengan pakaian rapinya.

"Lho katanya udah dateng? kok baru muncul?" tanyaku.

"Lho aku wes dateng daritadi, dari jam 7 kurang lima belas menit. Tapi aku sek ada di Indomaret dapan sana." jawabnya sambil raut mukanya mengekspresikan lokasi Indomaret.

Rizal ini orang yang cukup friendly menurutku, gampang akrab dengan semua orang. Tak jarang saya menginap dirumahnya jika memang sudah kemalaman di Surabaya dan enggan untuk pulang.
Tidak lama setelah itu, kita berjumpa Mbak Mirna. Mbak Mirna ini merupakan Humas dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur yang juga menangani komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI) Jatim. Acara malam ini dalam merupakan Giving Thanks dari Bank Indonesia (BI) atas terselenggaranya acara pengukuhan GenBI 2016 pada tanggal 28 Mei lalu.

Selain pengukuhan GenBI 2016, dalam acara yang di gelar di Hotel Alana tersebut juga terselip launching buku GenBI yang pertama di Indonesia yang berjudul "Bank Indonesia, Apa kata mereka." Buku ini merupakan hasil pelatihan penulisan yang diselenggarakan BI untuk GenBI. Di dalamnya, terdapat tulisan opini teman-teman terkait seluk beluk kebanksentralan.

Tidak hanya satu buku, namun ada juga Yearbook GenBI 2015 yang turut diluncurkan. Buku yang satu ini membahas segala kegiatan yang dilakukan oleh GenBI 2015 selama satu periode. Buku ini lah yang saya pimpin pembuatannya selama 2 minggu masa pengerjaan, bersama 11 teman lainnya dalam satu tim yang juga turut diudang pada malam hari ini.

Oke lanjut ke jalannya acara, satu persatu teman-teman datang, Alvy, Vo, Meliza, Delya, Pepi, Ayu, Febby, Iwan dan yang terakhir Fanny. Dan yang tak diduga, malam ini Pak Benny selaku Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur juga turut hadir. Speechless rasanya melihat beliau mau hadir dalam acara ini. Denger-denger sih beliau juga yang nraktir kita, hehe.


"Zal, disini gak bisa pesen Sego Tewel?" candaku pada Rizal.

"Mesenno Sego Goreng lho.. Jauh-jauh kesini masak mau makan Sego Goreng. hahaha." Timpalnya.

Malam itu dalam suasana Cafe yang bisa dibilang tempatnya orang-orang borjuis, kita menyantap hidangan yang kita pesan dengan menu pilihan mayoritas steak dan es krim. Makan steak sih bukan hal yang pertama, mengingat sebelumnya pernah makan-makanan daging seperti itu. Iya, empal daging atau daging-daging dalam nasi kotak. Hehehe, lupakan!

Menu yang saya pesan adalah Tenderloin Steak dengan campuran keju diatasnya. Menu klasik sih, western banget sebenarnya, Namun bagi saya ini yang pertama. Dalam  plate-nya, terdiri dari kentang, buncis, tomat dan tentunya steak yang disiram dengan brown saus. Ah sayang sekali ngga motret untuk keperluan blog, padahal Mbak Mirna sudah ngingetin. Hehe.
Berhubung saya ngga motret makanannya, saya searching di Official Page dari BonCafe di Facebook. Beginilah wujud makanannya. Hehe maafkan yaa, asal comot. 

Untuk rasanya, jangan ditanya. Enak! Sayangnya steak yang saya makan dimasak dengan tingkat kematangan well done, sehingga sedikit kurang empuk saat dimakan. Berbeda dengan Pepi, dilihat dari kejauhan, steak yang dia makan terlihat dengan tingkat kematangan medium rare. Well, namanya juga mahasiswa, apa pun dimakan ngga mentingin teknik memasak. Hehe.

Meskipun Pak Benny terlebih dahulu pulang karena alasan kesehatan, kita masih tetap melanjutkan dinner. Ya, malam itu jadi malam penuh keakraban, keceriaan dan kerakusan teman-teman dalam ramainya suasana Cafe. Ramai, karena tepat di sebelah kita sedang ada yang merayakan ulang tahunnya di Cafe ini.

Gratis, menjadi pemicu kami memesan segala yang ada di Cafe tersebut bak suku bar-bar. Terlebih Rizal yang asal pesan jika makanannya terlihat begitu menggoda, sesuai sih dengan proporsi badannya yang tidak bisa dibilang kurus.

Mengingat mereka bekerja tanpa lelah, lembur tiap hari pun dijabanin hanya untuk menyelesaikan Yearbook GenBI 2015 hanya dalam waktu 2 minggu. Tak mengapa, saya rasa ini malam kami dan kami layak mendapatkannya.

Acara pun berakhir pukul 21.20 WIB, setelah saya membagikan insentif yang diberikan dari BI untuk teman-teman. Untuk jumlahnya.. ya adalah ya, hehe. Selesainya, kami bergegas pulang menuju kost, kontrakan dan rumah masing-masing, 

Pesan saya buat teman-teman, kalian adalah teman sekaligus tim yang sangat luar biasa! terima kasih teman-teman, GenBI dan juga Bank Indonesia tentunya.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Rahma Indah
AUTHOR
August 15, 2016 at 6:51 AM delete

Kakakkkk tulis pengalaman nulis skripsi dunksss hahaha

Reply
avatar
November 25, 2016 at 6:05 PM delete

Lain waktu yaa.. skripsi itu manis untuk dikenang, namun pahit untuk diulang :)

Reply
avatar