Taman Paseban, Oase Di Tengah Krisisnya Taman Di Bangkalan

4:26:00 AM
Taman Paseban di Kabupaten Bangkalan
Setelah sekian lama hanya lewat dan tak sempat mengunjungi Taman Paseban di Bangkalan, akhirnya saya memutuskan untuk berkunjung ke taman yang baru selesai direnovasi pada akhir tahun 2015 lalu. Sabtu pagi (23/01), tepatnya pukul 9.00 WIB. Ditemani oleh teman satu komunitas blogger Madura (red. Plat-M), Mbak Riska dan Kak Yanto yang merupakan pasangan blogger.

Sekilas jika dilihat dari kejauhan, taman ini cukup menarik dikunjungi karena warna taman yang memang sangat eksentrik sesuai dengan karakter orang Madura. Ya, merah dan kuning menjadi warna cat yang mendominasi di taman ini. Hijaunya pohon gombor turut mengiasi kecantikan taman yang memang dua kali lipat lebih besar dari Taman Paseban sebelum direnovasi.

Selain pasangan blogger, tak lupa teriknya sinar matahari turut menamani. Cukup panas memang untuk sinar matahari pada pukul 9 pagi, namun hal tersebut tak menyurutkan niat saya untuk menjelajahi taman di Kota sendiri. Sesampainya di taman, sepeda pun saya parkir. Saatnya menjelajah taman yang ukurannya mungkin tak lebih dari 2 hektar.
 
Pintu masuk (Gerbang Utama) Taman Paseban.
Kaki pun memulai langkahnya menapaki barunya jalanan taman. Mata seolah tak lepas memandangi taman layaknya intel kepolisian yang sedang mengawasi pelaku kejahatan. Hmm.. not bad. Taman yang menurut saya bernuansa baru bagi Kabupaten Bangkalan. Namun karena memang hari sabtu dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah 10, maka tidak terlalu banyak pengunjung yang datang.

Sekilas mata memandang, di taman ini terdapat jalanan memutar yang bisa dilalui oleh pejalan kaki. Yaps, hanya pejalan kaki. Sepeda atau pun kendaraan lainnya hanya bisa masuk sebatas tempat parkir saja. Di dalam taman juga terdapat air mancur yang ukurannya tidak terlalu besar, juga 'gazebo' berupa paseban atau tempat peristirahatan bagi pengunjung yang ingin berteduh ataupun beristirahat.

Setelah mengelilingi taman, saya merasa ada yang kurang. Hmm ya! memang tak lengkap rasanya jika berkunjung ke taman namun sepi pengunjung. Maka dari itu saya putuskan untuk pulang dan berkunjung lagi esok dihari minggu pagi, yang biasanya memang ramai pengunjung.

Skip Skip. Akhirnya hari minggu tiba. Waktunya menyiapkan 'persenjataan'. Ya, kamera dan segala pendukungnya memang wajib saya bawa jika berkunjung kemanapun. Setelah dirasa siap, waktunya berangkat! Kukayuh sepeda gunung, namun ngga lewat gunung, melainkan jalanan aspal yang basah oleh hujan pada dini harinya.

Jarak dari rumah ke Taman Paseban memang ngga begitu jauh, sekitar 100 meter. Letaknya yang strategis di tengah kota dan berhadapan dengan Masjid Agung jelas membuat taman ini eksis. Dihari minggu, pengunjung yang datang bisa berkali-kali lipat dari hari biasa. Moment seperti ini tentu tak mungkin di sia-siakan oleh para pedagang atau penjaja makanan untuk mengais rejeki dari adanya taman ini, terlihat dari berjejernya pedagang yang ada di sepanjang jalanan pinggir taman mulai dari penjual makanan, minuman, hingga penjual ikan hias.

Saya coba mencicipi jagung rebus yang dijajakan pedagang karena memang situasi kondisi yang mendukung, mulai dari perut yang laper hingga kondisi cuaca yang memang tak sepanas hari kemarin, lebih 'adem'. Namun taman tetap ramai. Terlihat muda-mudi yang tak lupa berfoto selfie. Pengunjung yang hadir mulai dari yang muda hingga tua, namun anak remaja masih mendominasi keramaian taman.

Jagung yang tadi saya beli akhirnya habis saya makan, namun saya bingung membuang sisa batang jagung ini kemana karena memang tak terlihat adanya tempat sampah yang mudah ditemui. Hingga saya putuskan untuk membuangnya ditumpukan sampah yang berada di samping taman. Saya pikir ini sebuah kekurangan, karena terlihat sampah bertebaran dimana-mana. Mungkin karena susahnya tempat sampah untuk ditemui.

Suasana di Taman Paseban
Selain tempat sampah, kolam yang berada di dalam taman juga seperti kurang terurus atau mungkin belum sempat selesai pengerjaannya karena memang terlihat kurang elok dipandang mata. Rumput di tengah taman juga mulai rusak dan berlumpur. Sepertinya memang perlu adanya perawatan dan penjagaan yang rutin dan intensif oleh pihak pengelola taman.

Saya rasa dengan adanya Taman Paseban di Bangkalan merupakan sebuah oase ditengah krisis dan minimnya taman yang fungsional di Kabupaten Bangkalan, sehingga adanya taman ini patut rasanya untuk di apresiasi. Namun dibalik itu semua, perlu adanya sinergi antara masyarakat dan pemerintah setempat untuk saling menjaga dan merawat taman agar kelak bisa menjadi taman yang mempunyai banyak prestasi yang kelak membanggakan Kabupaten Bangkalan layaknya Taman Bungkul di Kota Surabaya.

Tak berhenti hanya di Taman Paseban, saya berharap semakin banyak taman-taman yang dibangun kedepannya untuk mempercantik 'wajah' perkotaan di Kabupaten Bangkalan. Mungkin ngga hanya di kota, kalau perlu hingga ke desa. Itu semua tentu untuk kemajuan Kabupaten Bangkalan yang makin baik.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
January 29, 2016 at 6:35 AM delete

melihat foto yang pertama dan kedua jadi pengend kesana

Reply
avatar